Kerajinan Tangan Terlahir Kembali

:::

2019 / Agustus

Artikel‧Ivan chen



Taiwan Panorama edisi khusus bahasa negara-negara Asia Tenggara (Indonesia, Thailand dan Vietnam) yang terbit secara dwibulanan, telah mendapatkan banyak perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, serta pengakuan dan sambutan yang hangat.

Taiwan Panorama edisi ke 23, Agustus 2019, mengambil tema “Pengembalian Seni Kerajinan Tangan untuk Terlahir Kembali”, yang terdiri dari 4 artikel antara lain “Mengembalikan Seni Kerajinan Taiwan, Sekolah Seni dan Kerajinan Taiwan”, “Setelan Jas Pria, Klasik Tidak akan Kedaluwarsa”, "Kamaro’an Tinggallah Di sini! Kerajinan Anyaman Rumput Payung Terlahir Kembali”, “Kerajinan Tangan Menggiring Mode Mutakhir, Perajin Kulit Drifter & Perak Grass Hill Jewelry”, yang masing-masing mengetengahkan transformasi industri kerajinan tangan tradisional, menghidupkan kembali toko penjahit jas setelan tua, inovasi seni anyaman serta mempopulerkan kerajinan kulit dan perak, dengan peliputan yang lebih mendalam, memperkenalkan tren baru akan industri kerajinan tangan tradisional Taiwan.

Rubrik “Mengenal Taiwan”, mengetengahkan cara menikmati keindahan pesisir pantai dengan bersepeda, dengan menghampiri Kuil Gong Tian Baishatun di Miaoli, juga masih ada tim “Say Hi Home” yang merealisasikan impian kembalinya kelompok pemuda ke desa, memperkenalkan objek wisata budaya dan jalur kereta sepanjang pesisir pantai termasuk stasiun berbahan kayu, yang dibangun di masa pendudukan Jepang, guna mempromosikan lingkungan pariwisata Taiwan yang berkualitas.

Selain itu, rubrik Asia Tenggara dalam edisi kali ini, memperkenalkan alat musik tradisional berbahan bambu dari Indonesia, termasuk kelompok Gema Angklung dan pertunjukkannya yang dibentuk oleh para imigran baru di Taiwan. Anggota Gema Angklung ada yang bertugas sebagai penerjemah di instansi pemerintah, guru bahasa Indonesia dan juga ibu rumah tangga. Gema Angklung juga sempat mendapatkan undangan untuk pentas dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah, misalnya “Hari Budaya Asia Pasifik 2018” yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri (MOFA), dan Tua-Tiu-Tiann International Festival of Art 'Open Air Performance' 2018. Semuanya menjadi bagian dari kontribusi untuk pertukaran kebudayaan di dalam lingkungan kehidupan masyarakat Taiwan dan Indonesia.

Taiwan Panorama edisi bahasa-bahasa Asia Tenggara, akan terus berperan sebagai media pertukaran informasi dan budaya antara Taiwan dengan Asia Tenggara, membangun jembatan persahabatan yang saling menguntungkan demi kesejahteraan bersama.

Artikel yang berkaitan

近期文章

X 使用【台灣光華雜誌】APP!
更快速更方便!