Forum Lingkar Pena Taiwan

:::

2018 / Februari

Artikel‧Lee Shan-wei Gambar‧Chuang Kung-ju


隨著大量的外籍移工與逐年增加的留學生,來自異國的寫作組織默默地在台灣開花、結果,最初從1999年菲律賓移工詩社至今,這群堅持以母語寫作的異鄉遊子累積出許多精彩作品與創作能量,印尼筆會台灣分會(Forum Lingkar Pena Taiwan, FLP Taiwan)更是其中的佼佼者。


Seiring dengan bertambahnya pekerja migran dan pelajar asing yang datang ke Taiwan, maka komunitas hobby menulis juga mulai tumbuh dan berkembang. Perkembangan ini dimulai dari munculnya komunitas penulis puisi kalangan pekerja migran asal Filipina pada tahun 1999, dimana buah karya hasil karangan mereka tertulis dalam bahasa negara asal mereka. Forum Lingkar Pena Taiwan (FLP Taiwan) yang merupakan komunitas penulis asal Indonesia, termasuk salah satu komunitas yang tangguh.

 

 

Penulis asal Indonesia, Helvy Tiana Rosa adalah pencetus awal Forum Lingkar Pena (FLP) di Jakarta pada tahun 1997,  FLP kini tersebar di 32 provinsi di Indonesia, dan 12 negara di 5 benua, dengan jumlah anggota lebih dari 13 ribu orang. FLP kerap menggelar berbagai kegiatan seminar, interaksi pertukaran, penerbitan dan percetakan,  sekaligus memberikan kebebasan dan ruang yang lebih luas dalam berkarya, sehingga mampu menghasilkan  karya tulis yang beragam.

 

Pendirian FLP Taiwan

Pendirian FLP Taiwan diawali dari sebuah komunitas bernama “Bilik Sastra”, yang digagas oleh Yuherrina Gusman saat melakukan penelitian tentang kehidupan para buruh migran asal Indonesia (BMI) di Taiwan. Ia menemukan  tidak sedikit BMI yang menyempatkan diri untuk mengambil pelajaran bahasa Inggris,  bahasa Mandarin atau keterampilan dalam bidang komputer. Pada tahun 2010, Yuherrina Gusman mengajukan proposal pendirian “Bilik Sastra” kepada Radio Republik Indonesia (RRI), meminta pengadaan buku-buku berbahasa Indonesia yang disediakan untuk para BMI di Taiwan, hal ini berhasil menyita perhatian publik. Seiring dengan semakin banyaknya anggota yang bergabung dengan “Bilik Sastra”, mereka sepakat untuk bergabung dengan FLP dan membentuk FLP cabang luar negeri. Selain menyediakan beragam jenis buku bacaan, mereka juga  menggelar kegiatan seminar, kelas pelatihan menulis dan juga interaksi pertukaran karya tulis.

Keanggotaan FLP Taiwan tidak terbatas untuk golongan tertentu, juga tidak memiliki tempat ruang yang permanen, namun dapat berjalan dan beroperasi dengan lancar. Hal ini disebabkan  oleh sang pencetus Yuherrina Gusman dan suaminya adalah pelajar yang tengah menempuh pendidikan di Taiwan, mereka memiliki waktu yang lebih banyak untuk terjun di dalamnya. Selain itu, banyak anggota yang juga menunjukkan inisiatif yang tinggi serta aktif dalam berbagai kegiatan yang digelar oleh FLP Taiwan .

 

Sikap Perfeksionis Tinggi

Sebagai seorang BMI yang kerap memiliki jadwal penuh untuk bekerja, bagaimana mungkin masih memiliki waktu luang untuk menulis? Yuherrina Gusman menjelaskan,  seorang penulis biasanya memiliki sifat karakter berbeda dengan orang awam, yakni perfeksionis atau memiliki pengharapan kepada diri sendiri yang sangat tinggi. Ia mengatakan, “Motivasi untuk terus belajar yang ada pada diri masing-masing penulis sangatlah besar, selalu berharap dapat terus maju dan berkembang, sehingga memiliki satu impian untuk membawa pulang apa yang sempat dipelajari di Taiwan atau di negara lain ke kampung halamannya sendiri.”

Salah satu BMI yang memiliki dua talenta sekaligus, baik dalam menulis dan menyanyi, Bunda Umy, melakukan kolaborasi dengan 3 seniman Taiwan pada tahun 2016 dalam ajang yang bertajuk “Sound Route: Songs of SPEX──The Singing”, dimana ia menyanyikan lagu yang menceritakan kisah Spex, seorang anak perempuan hasil kawin campur. Takkala ia melantunkan sebuah lagu lama berbahasa Taiyu, dengan logat Indonesianya, ia mampu memukau para pengunjung. Semua hadirin termasuk penyanyinya, serasa kembali masuk ke dalam mesin waktu untuk merasakan kembali memori catatan sejarah. Namun karena Bunda Umy adalah seorang BMI yang hanya memiliki jatah hari libur seminggu sekali, ia menemukan hambatan dalam hal latihan menyanyi. Setelah melakukan diskusi, sang majikan mengijinkan Bunda Umy untuk pergi ke rumah guru vocal untuk latihan nyanyi, selama tidak menggangu aktivitas kerja yang menjadi tanggung jawabnya.

Ia berharap kelak setelah masa kontrak kerjanya di Taiwan selesai, ia akan kembali ke kampung halamannya di Solo untuk membuka sebuah toko buku dan berkarya dalam bidang musik dengan sang anak yang menggemari musik rock. Kondisi demikian tentu menyebabkan Bunda Umy terlihat cukup unik di dalam lingkungan FLP Taiwan. Umumnya, mereka akan kembali ke kampung halamannya usai kontrak kerja, dengan tekad bulat dan pengalaman yang dipelajarinya selama berada di luar negeri, untuk memajukan dan memberikan efek positif bagi perubahan melangkah ke arah yang lebih baik lagi.

 

Kreasi dan Interaksi Berkualitas Tinggi

Selain menggelar pertemuan, anggota FLP Taiwan juga memiliki jaringan klub di dalam medsos Facebook untuk melakukan interaksi. Klub komunitas di medsos yang kini diketuai oleh Justto Lasoo, dibantu oleh Yuherrina Gusman dan Bunda Umy, kerap menggelar kelas pelatihan, pertukaran tulisan dan berbagi tips cara menulis yang baik. Bunda Umy yang hanya lulusan SMA di Indonesia, ternyata mampu mengajarkan cara menulis pantun yang baik, ia juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan di negara-negara Asia Tenggara yang telah memupuk kebiasaan menulis puisi sejak kecil di sekolah.  FLP Taiwan  kini terus berkembang pesat, dan sering menggelar berbagai kegiatan untuk berinteraksi dengan dunia luar, termasuk kegiatan Taiwan Literature Award for Migrants. Buah karya yang dilahirkan dari ajang yang digelar pada tahun 2014 dan 2016, dibawa ke Jakarta untuk dipamerkan. Kerjasama ini juga termasuk mengundang Pipiet Senja, penulis Indonesia yang dijuluki sebagai “Ibu penulis suara BMI”, untuk menghadiri lokakarya di Taiwan.

 

Literasi Bahasa
“Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu”

Tulisan “Bhinneka Tunggal Ika”  terlihat  pada pita yang berada dibawah cengkeraman Garuda, lambang negara Indonesia, memiliki makna berbeda-beda tetapi tetap satu, berasal dari bahasa Sansekerta yang merupakan cuplikan dari kata-kata yang pernah diucapkan oleh Dewa Siwa dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular.

Jika menilik berbagai buah karya tulisan yang ada, dapat terlihat deskripsi tentang kehidupan, hasrat, kebahagiaan dan kepedihan, yang telah melintasi  batas suku, bahasa dan budaya dan mampu menyajikan aspek humanitas yang lebih merakyat. Oleh sebab itu dengan keberadaan FLP Taiwan, tidak saja hanya menjadi sebuah ruang media interaksi bagi para BMI, dan pelajar semata untuk menuliskan kisah pribadi, tetapi juga menjadi tempat untuk mendeskripsikan apa yang terjadi dan dilihat, dimana ini juga menjadi bagian dari inovasi budaya dan humanitas. Taiwan, yang merupakan bagian dari keragaman, sanggup mengumpulkan berbagai perbedaan yang ada, sehingga terlihat senada dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia. 

Artikel yang berkaitan

近期文章

X 使用【台灣光華雜誌】APP!
更快速更方便!